Advertisement

Menulis Best Practice Dengan Metode ATAP Merupakan Solusi Mudah Menepis Gundah

Sebagai seorang pendidik tentunya kita telah banyak melakoni proses pembelajaran demi pembelajaran di kelas. Dari apa yang kita terapkan dan kembangkan dalam pembelajaran tersebut terselip beragam kisah baik suka duka. Tak jarang kita merasakan kegagalan dalam pembelajaran yang kita kembangkan, namun kita tidak pernah berhenti pada kegagalan tersebut. Tanpa kita sadari sebenarnya kita senantiasa melakukan upaya untuk mengatasi kegagalan dan mencari cara untuk memperbaiki pembelajaran tersebut. 



Tidak mungkin rasanya kita akan tetap berada pada satu titik kegagalan itu terus menerus. Pada satu periode pastinya kita dapat menemukan perbaikan pembelajaran yang kita terapkan. Hanya saja terkadang ketika kita mendapatkan pembelajaran terbaik itu luput dari dokumentasi kita. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa ketrampilan menulis menjadi salah satu ketrampilan yang hendaknya dikuasai oleh guru seperti kita.

Guru dirasakan perlu memiliki kecakapan menulis karena selain untuk mendokumentasikan upaya peningkatan pembelajarannya namun menulis dapat menjadi salah satu cara berbagi praktik baik pembelajaran yang mungkin dapat bermanfaat baik sebagai inspirasi maupun referensi bagi rekan guru yang lain. 

Bila kita berbicara mengenai ketrampilan menulis guru maka tidak dapat kita pungkiri akan adanya fakta bahwa ternyata masih banyak sekali miskonsepsi-miskonsepsi yang kita temui. Seperti apa miskonsepsi dimaksud?

  1. Menulis hanya untuk mereka yang memang memiliki bakat menulis.
  2. Menulis itu merupakan proses sekali jadi (instan)
  3. Menulis itu sulit, karena setiap tulisan harus mengikuti EYD
  4. Ketrampilan menulis tidak memiliki keterikatan dengan ketrampilan berbahasa yang lain seperti membaca dan berbicara
  5. Karier guru dan penulis itu adalah dua hal yang berbeda dan tidak tersambung satu sama lain.
Tentu saja miskonsepsi diatas hendaknya diluruskan. Anggapan  bahwa menulis hanya untuk mereka yang memiliki bakat menulis adalah kesalahan mendasar yang kemudian menjadi dalih dari kita untuk tidak memulai menulis. tentu saja alasannya karena kita menganggap diri kita tidak berbakat padahal ketrampilan menulis merupakan ketrampilan dapat dipupuk dan ditumbuhkan dengan terus berlatih menulis. Menulis ini merupakan ketrampilan yang mungkin dimiliki siapa saja dan dapat pula dilakukan oleh siapa saja tanpa perduli berbakat menulis atau tidak.

Karena ketrampilan menulis dapat dipupuk dan ditumbuhkan melalui latihan maka sajelas bahwa menulis bukanlah suatu proses sekali jadi seperti laiknya membuat mie instan (membuat mie instan saja tetap memerlukan proses, bukan?). Tulisan yang buruk sebagai produk dari proses belajar menulis tidak akan selamanya menjadi tulisan yang jelek. Untuk mendapatkan hasil tulisan yang baik dan berbobot maka seorang penulis perlu melalui beberapa tahapan diantaranya : curah ide, pengembangan ide, penulisan draf, revisi, menulis perbaikan, editing barulah kemudian dapat mencapai tahap penerbitan tulisan. 

Menulis memang tidak mudah, apalagi jika kita berpaku pada keterikatan terhadap Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Namun perlu disadari bahwasanya keterikatan tersebut tidak lantas mengaburkan essensi dari isi tulisan yang sesungguhnya hendak disampaikan penulis. Dapat menyampaikan gagasan/ide dalam tulisan itu harus tetap menjadi hal utama yang diutamakan barulah kemudian diikuti dengan EYD-nya.

Dalam menulis diperlukan kekayaan ide, inspirasi, pengetahuan yang dapat diperoleh dengan banyak membaca, bahkan apa yang dibaca oleh penulis seringkali akan tergambar dari gaya kepenulisan dan isi tulisan yang diangkatnya. Selain itu untuk menjadi penulis, kita juga dituntut untuk mampu memaparkan secara lisan dari hal apa saja yang kita tulis. Jadi ketrampilan menulis sangat erat kaitannya dengan kemampuan membaca, menyimak maupun berbicara. Keempatnya merupakan ketrampilan berbahasa yang saling berpengaruh satu dengan yang lainnya. Maka, tidak ada ceritanya seorang penulis yang tidak menyukai membaca atau enggan membaca akan dapat menghasilkan tulisan yang berkualitas. 

Miskonsepsi yang terakhir yakni tidak adanya ketersambungan antara karier guru dan menulis ini. Karena sejatinya erat kaitannya antara karier guru dan menulis, di mana guru dalam perhitungan angka kredit dituntut untuk melakukan publikasi ilmiah. Hal ini, meyakinkan kita bahwasanya sebagai guru hendaknya kita mulai menulis. Dan menulis hendaknya dijadikan salah satu agenda praktik baik bagi seorang Guru. 

Nah, untuk memenuhi kebutuhan menulis bagi guru maka disini disajikan: bagaimana menulis best practice dengan Metode ATAP. 

 APA ITU METODE ATAP?

Metode ATAP sebenarnya merupakan kepanjangan dari Awal, Tantangan, Aksi dan Perubahan. Mahayu Ismaniar--mentor menulis dari Guru Cikal-- menganalogikan ATAP dengan bentuk gunung. Diawali dengan awal yang biasa saja, kemudian mulai menanjak ketika mendapati tantangan, lalu mulai menurun kembali ketika menemukan aksi untuk mengatasi tantangan sebelumnya, dan kembali normal saat adanya perubahan.

Dalam proses menulis dengan formula ATAP ini misalnya kita dengan membuat tulisan singkat 4 kalimat dasar tentang awal kita memulai pembelajaran, dari 4 kalimat ini kita menggali tantangan apa serta aksi apa yang dapat kita upayakan untuk mencapai perubahan pada akhirnya.

Demikian tentang menulis metode ATAP Ini semoga dapat menginspirasi dan memotivasi untuk menulis, khususnya best practice.

Berikut ini pemaparan tentang praktik baik sebagai referensi tambahan ya kawan menulisku :


Oleh :

Hikari Yuli




Posting Komentar

0 Komentar